Rabu, 04 September 2013

BELAJAR MEWARNAI

Bagi anak-anak, khususnya yang masih di bawah lima tahun, mewarnai gambar adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Selain bisa berimajinasi, aktifitas ini melatih otak kanan anak untuk lebih kreatif tanpa harus terpaku pada aturan baku yang mengikuti warna seharusnya. Tidak heran kalau ada anak yang menggambar gunung menjadi warna coklat, langit menjadi warna hijau, laut menjadi biru tua, rumah berwarna-warni, dan hal-hal lain yang bagi orang dewasa ‘tidak masuk akal’. Imajinasi melatih anak menembus batas yang seharusnya sehingga mereka dibebaskan mewarnai apa saja sesuka hati. Belajar mewarnai adalah salah satu bentuk dari latihan untuk menjadi kreatif.

Banyak guru yang menjadikan aktifitas ini sebagai bagian dari pendidikan karakter. Belajar mewarnai pada hakekatnya adalah belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, belajar tentang toleransi, belajar tentang alam dan juga bagaimana berimajinasi tanpa harus keluar dari realitas. Ini adalah modal dasar pembentukan sifat dan kepribadian pada anak. Apalagi jika ditambah dengan materi-materi seperti bermain di luar ruang atau kegiatan outdoor.

Untuk mengarahkan anak agar mewarnai dengan benar, pertama yang harus dilakukan adalah memperkenalkan mereka dengan alam sekitar. Misalnya nanti akan diberi tugas mewarnai gambar pemandangan alam, tentu terlebih dahulu mereka harus mengetahui apa warna gunung, awan, burung, pohon kelapa, tanah, sungai, laut, sawah, dan lainnya. Kemudian mereka pun harus mengerti tentang warna-warna apa yang melekat pada objek tersebut. Setelah itu barulah mereka diminta untuk mewarnai gambar polos yang serupa dengan gambar alamnya.

Koneksifitas antara otak kanan (imajinasi) dan otak kiri (intelejensi) memang mutlak perlu dilatih sejak dini. Oleh karena itu, belajar mewarnai merupakan sarana yang tepat untuk mendidik anak-anak untuk berlatih kreatif dan inovatif tanpa meninggalkan sisi intelektualitasnya melalui pelajaran berhitung. Kelak anak-anak tersebut akan tumbuh menjadi pribadi yang lengkap dengan memahami cara berpikir konvergen dan juga divergen karena terbiasa dilatih sejak dini. Kelak para orang tua nantinya yang bisa membaca bakat anak-anak mereka, apakah lebih dominan kecerdasan intelektualnya ataukah kreatifitasnya.