Jumat, 04 Oktober 2013

Mengembangkan Bakat Anak melalui Les Gambar



Masa anak-anak adalah masa ketika kreatifitas mulai terbentuk dan imajinasi tumbuh dan berkembang secara liar. Pada periode pertumbuhan seperti inilah otak mereka mulai dirangsang untuk berpikir kreatif dan berbeda dari orang lain. Pendidikan di sekolah lebih fokus mencetak anak-anak dengan kecerdasan intelektualitas, namun kurang maksimal dalam membentuk generasi yang inovatif. Bebicara tentang daya cipta berarti berbicara tentang kesenian. Salah satu seni yang merangsang otak kanan berkembang optimal adalah melukis atau menggambar. Tidak heran banyak di antara anak-anak kecil oleh orang tuanya dimasukkan les gambar di berbagai sanggar. Tujuannya agar secara psikologis mereka seimbang antara seni dan eksakta.

Les gambar yang banyak bertebaran di kota-kota besar menawarkan banyak hal, yaitu bagaimana seorang anak bisa memvisualisasikan apa yang ada di depan matanya ke dalam bahasa lukisan. Menggambar objek tidak sama dengan menyontek. Meski ada anggapan bahwa semakin mirip antara hasil gambar dengan benda yang dilukis, maka itu berarti pelukisnya semakin mahir. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar, karena kemahiran tidak dilihat dari kemiripannya, melainkan dari kreasinya. Jika menggambar sepotong buah apel saja, maka pelukisnya tidak bisa disebut kreatif. Namun apabila di atas apel tersebut ada pisau, piring, serbet dan sebagainya padahal objek aslinya tidak ada, disitulah seorang anak diajar berpikir kreatif.

Untuk mengikuti les gambar sebenarnya mudah saja, tidak ada persyaratan khusus apalagi placement test seperti kursus bahasa Inggris. Karena melukis berkaitan dengan seni, maka para tutor pun secara langsung dan tidak langsung merangsang daya imajinasi dan kelembutan hati anak-anak didikannya melalui kursus tersebut. Kepekaan dalam melihat detail objek membuat anak-anak juga sensitif terhadap lingkungan di sekitarnya. Bila sebelumnya menganggap tidak ada yang terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya, dengan berlatih melukis atau menggambar, kesadaran mereka akan sesuatu yang ‘tidak semestinya’ pun menjadi lebih tajam. Karena itu, kegiatan ini memang tidak saja bermanfaat untuk menambah keterampilan belaka, namun juga sangat membantu dalam perkembangan kejiwaan anak-anak itu sendiri.